MENCARI BEBERAPA REFERENSI TENTANG MOTODE MENGAJAR YANG DAPAT DIGUNAKAN UNTUK MENGAJAR PENJAS SELAIN YANG SUDAH DIJELASKAN DALAM PERKULIAHAN
DISUSUN OLEH:
KHAMID FAUZI
10601241046
PJKR A
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
2012
Metode berasal dari bahasa Latin ” Meta ” dan ” Hodos “. Meta artinya jauh (melampaui), Hodos artinya jalan (cara). Metode adalah cara-cara mencapai tujuan. Sedangkan pengertian mengajar menurut Arifin (1978) mendefinisikan bahwa mengajar adalah suatu rangkaian kegiatan penyampaian bahan pelajaran kepada murid agar dapat menerima, menanggapi, menguasai dan mengembangkan bahan pelajaran itu. Sedangklan Nasution (1986) berpendapat bahwa mengajar adalah suatu aktivitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak, sehingga terjadi proses belajar. Namun menurut Biggs (1991), seorang pakar psikologi membagi konsep mengajar menjadi tiga macam pengertian yaitu :
a. Pengertian Kuantitatif dimana mengajar diartikan sebagai the transmission of knowledge, yakni penularan pengetahuan. Dalam hal ini guru hanya perlu menguasai pengetahuan bidang studinya dan menyampaikan kepada siswa dengan sebai-baiknya. Masalah berhasil atau tidaknya siswa bukan tanggung jawab pengajar.
b. Pengertian institusional yaitu mengajar berarti . the efficient orchestration of teaching skills, yakni penataan segala kemampuan mengajar secara efisien. Dalam hal ini guru dituntut untuk selalu siap mengadaptasikan berbagai teknik mengajar terhadap siswa yang memiliki berbagai macam tipe belajar serta berbeda bakat, kemampuan dan kebutuhannya.
c. Pengertian kualitatif dimana mengajar diartikan sebagai the facilitation of learning, yaitu upaya membantu memudahkan kegiatan belajar siswa mencari makna dan pemahamannya sendiri.
Dari definisi-definisi mengajar dari para pakar di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa mengajar adalah suatu aktivitas yang tersistem dari sebuah lingkungan yang terdiri dari pendidik dan peserta didik untuk saling berinteraksi dalam melakukan suatu kegiatan sehingga terjadi proses belajar dan tujuan pengajaran tercapai. Sedangkan pengertian pendidikan jasmani menurut Depdiknas (2003) merupakan proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas jasmani yang direncanakan secara sistematik bertujuan untuk mengembangkan dan meningkatkan individu secara organik, neuromuskuler, perseptual, kognitif, dan emosional, dalam kerangka sistem pendidikan nasional.
Metode mengajar merupakan pedoman cara khusus untuk penyampaian materi pembelajaran untuk struktur episode belajar atau pembelajaran. Menurut Mosston (1986) mengajar adalah serangkaian hubungan yang berkesinambungan antar guru dan siswa yaitu :
1. Mencoba mencapai keserasian anatara apa yang diniatkan dengan apa yang sebenarnya terjadi.
2. Masalah yang tentang metode mengajar.
3. Kita juga dapat mengatasi kecenderungan pribadi seseorang guru.
4. Mengajar-Belajar-Tujuan
5. Perilaku guru sebagai titik masuk
Dari analisis metode mengajar menurut perilaku guru, perilaku siswa dan tujuan dapat digolongkan sebagai berikut :
1. Metode latihan keterampilan ( Drill method )
Metode latihan keterampilan adalah suatu metode mengajar , dimana siswa diajak ke tempat latihan keterampilan untuk melihat bagaimana cara membuat sesuatu, bagaimana cara menggunakannya, untuk apa dibuat, apa manfaatnya dan sebagainya. Contoh latihan keterampilan membuat tas dari mute/pernik-pernik.
Kelebihan metode latihan keterampilan sebagai berikut :
a. Dapat untuk memperoleh kecakapan motoris, seperti menulis, melafalkan huruf, membuat dan menggunakan alat-alat.
b. Dapat untuk memperoleh kecakapan mental, seperti dalam perkalian, penjumlahan, pengurangan, pembagian, tanda-tanda/simbol, dan sebagainya.
c. Dapat membentuk kebiasaan dan menambah ketepatan dan kecepatan pelaksanaan.
Kekurangan metode latihan keterampilan sebagai berikut :
a. Menghambat bakat dan inisiatif anak didik karena anak didik lebih banyak dibawa kepada penyesuaian dan diarahkan kepada jauh dari pengertian.
b. Menimbulkan penyesuaian secara statis kepada lingkungan.
c. Kadang-kadang latihan tyang dilaksanakan secara berulang-ulang merupakan hal yang monoton dan mudah membosankan.
d. Dapat menimbulkan verbalisme.
2. Metode mengajar beregu ( Team teaching method )
Metode mengajar beregu adalah suatu metode mengajar dimana pendidiknya lebih dari satu orang yang masing-masing mempunyai tugas. Biasanya salah seorang pendidik ditunjuk sebagai kordinator. Cara pengujiannya, setiap pendidik membuat soal, kemudian digabung. Jika ujian lisan maka setiap siswa yang diuji harus langsung berhadapan dengan team pendidik tersebut.
SUMBER: http://elisiusjunaidi.blogspot.com/2012/04/metode-mengajar-dalam-pendidikan.html
3. Gaya Program Individual
Dalam gaya program individual ini, program pembelajaran didesain oleh siswa. Program disusun oleh siswa dan didasarkan atas pengalaman dengan gaya-gaya lainnya. Kemudian siswa mengidentifikasi criteria pencapaian hasil belajar.
4. Gaya Yang Diprakarsai Siswa
Dalam gaya yang diprakarsai siswa, siswa membuat keputusan dalam pra pertemuan dan secara teratur mengecek dengan guru.
5. Gaya Mengajar Sendiri
Dalam gaya mengajar sendiri, keputusan diambil oleh siswa.
6. Gaya Modifikasi (Modification Style)
Esensi modifikasi adalah menganalisis sekaligus mengembangkan materi pelajaran dengan cara meruntunkannya dalam bentuk aktivitas belajar yang potensial sehingga dapat memperlancar siswa dalam belajarnya. Cara ini dimaksudkan untuk menuntun, mengarahkan, dan membelajarkan siswa yang tadinya tidak bisa menjadi bisa, yang tadinya kurang terampil menjadi lebih terampil. Cara-cara guru memodifikasi pembelajaran akan tercermin dari aktivitas pembelajarannya yang diberikan guru mulai awal hingga akhir pelajaran. Selanjutnya guru-guru pendidikan jasmani juga harus mengetahui apa saja yang bisa dan harus dimodifikasi serta tahu bagaimana cara memodifikasinya.
Pengetahuan dan pemahaman yang baik tentang tujuan, karakteristik, materi, kondisi lingkungan, dan evaluasi, keadaan sarana, prasarana dan media pengajaran pendidikan jasmani yang dimiliki oleh sekolah akan mewarnai kegiatan pembelajaran itu sendiri.
Misalnya dalam permasalahan minimnya sarana dan prasarana pendidikan jasmani yang dimiliki sekolah-sekolah, seorang guru pendidikan jasmani dituntut untuk lebih kreatif dalam memberdayakan dan mengoptimalkan penggunaan sarana dan prasarana yang ada.
7. Metode Bermain
Dalam metode bermain, pembelajaran pendidikan jasmani diciptakan suasana yang menyenanakan. Seorang guru pendidikan jasmani yang kreatif akan mampu menciptakan sesuatu yang baru, yang sudah ada tetapi disajikan dengan cara yang semenarik mungkin, sehingga anak didik akan merasa senang mengikuti pelajaran penjas yang diberikan yakni bergerak melalui pendekatan bermain dalam suasana riang gembira. Kata kunci metode ini adalah adalah “Bermain – bergerak – ceria”.
Implikasi Metode Bermain yakni:
1. Siswa memperoleh kepuasan dalam mengikuti pelajaran.
2. Meningkatkan kemungkinan keberhasilan dalam berpartisipasi.
3. Siswa dapat melakukan pola gerak secara benar.
M. Metode Eksplorasi (Exploration Style)
Dalam metode eksplorasi, guru:
1) melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang
topik/tema materi yang akan dipelajari dari beraneka sumber;
2) menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran, dan
sumber belajar lain;
3) memfasilitasi terjadinya interaksi antarpeserta didik serta antara peserta didik
dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya;
4) melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran; dan
5) memfasilitasi peserta didik melakukan percobaan di lapangan.
8. Metode Elaborasi (Elaboration Style)
Dalam metode elaborasi, guru:
1) membiasakan peserta didik belajar melalui tugas-tugas tertentu;
2) memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas;
3) memberi kesempatan untuk berpikir, menganalisis, menyelesaikan masalah, dan bertindak tanpa rasa takut;
4) memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif;
5) memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan
prestasi belajar;
6) memfasilitasi peserta didik secara individual maupun kelompok;
7) memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan hasil belajar individual maupun
kelompok;
8) memfasilitasi peserta didik melakukan turnamen;
9) memfasilitasi peserta didik melakukan kegiatan yang menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri peserta didik.
9. Metode Konfirmasi (Confirmation Style)
Dalam kegiatan konfirmasi, guru:
1) memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan, tulisan,
isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan peserta didik,
2) memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi peserta didik
melalui berbagai sumber,
3) memfasilitasi peserta didik melakukan refleksi untuk memperoleh pengalaman
belajar yang telah dilakukan,
4) memfasilitasi peserta didik untuk memperoleh pengalaman yang bermakna dalammencapai kompetensi dasar:
5) berfungsi sebagai narasumber dan fasilitator dalam menjawab pertanyaan peserta didik yang menghadapi kesulitan, dengan menggunakan tekhnik yang benar;
6) membantu menyelesaikan masalah yang dialami peserta didik;
7) memberi acuan agar peserta didik dapat melakukan pengecekan hasil eksplorasi;
8) memberi informasi untuk bereksplorasi lebih jauh;\
9) memberikan motivasi kepada peserta didik yang kurang atau belum berpartisipasi aktif.
Dalam kegiatan penutup, guru:
a)bersama-sama dengan peserta didik membuat kesimpulan pembelajaran;
b) melakukan penilaian dan refleksi terhadap kegiatan yang sudah
dilaksanakan secara konsisten dan terprogram;
c) memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran;
d) merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi,
sesuai dengan hasil belajar peserta didik;
e) menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya.
Sumber: http://0ocky0.wordpress.com/2010/01/06/gaya-atau-metode-mengajar-pembelajaran-pendidikan-jasmani/
10. Metode Simulasi.
Metode ini menampilkan simbol-simbol, atau peralatan yang menggantikan proses, kejadian, atau benda yang sebenarnya, siswa dapat melakukan seperti keadaan sebenarnya, tetapi bukan proses, kejadian atau benda yang sebenarnya. Pada intinya metode ini memindahkan situasi yang nyata kedalam kegiatan atau ruang belajar karena adanya kesulitan untuk melakukan praktek dalam situasi yang sebenarnya, misalnya:
Kelebihannya siswa dapat melakukan seperti keadaan sebenarnya, tetapi bukan proses, kejadian atau benda yang sebenarnya
Kelemahananya hanya bias diterapkan di sekolah-sekolah tertentu
Sumber:http://manesa08penjas.blogspot.com/2011/02/metode-mengajar-dalam-penjas.htm006C
11. Metode Keseluruhan | Whole Method
Dalam pembelajaran penjas dengan Metode Keseluruhan anak-anak langsung disuruh bermain, jadi seluruh unit dipelajari sekaligus. Dengan demikian teknik dasar bermain tidak dipelajari tersendiri (secara khusus). Bila terjadi kesalahan teknik dasar dalam bermain maka permainan dihentikan, kemudian dibetulkan dengan sedikit penjelasan dan demonstrasi setelah itu permainan dilanjutkan kembali. Adapun keuntungan dan kelemahan dalam Metode Keseluruhan adalah sebagai berikut.
Keuntungan Dalam Metode Keseluruhan :
• Hasrat atau kemauan anak dalam bermain dapat dipenuhi sehingga anak tidak mudah merasa bosan.
• Dapat mengembangkan kerjasama tim.
• Dapat memahami isi permainan secara keseluruhan, teknik, taktik serta peraturan permainan.
Kelemahan Dalam Metode Keseluruhan :
• Penguasaan teknik dasar permainan tidak dapat dipelajari dengan sempurna
• Permainan tidak berjalan dengan lancer karena banyak terjadi pelanggaran yang disebabkan karena penguasaan teknik dasar belum sempurna.
• Skill individu pemain tidak dapat berkembang dengan baik karena teknik dasar permainan tidak dipelajari secara khusus.
Sumber:http://artikelpenjas.blogspot.com/2012/08/metode-keseluruhan-dalam-pembelajaran.html
12. Metode Progresif
Metode progresif (progresif method) adalah cara mengajar dimana bahan latihan atau keterampilan dibagi dalam beberapa unit atau bagian. Yang harus dilakukan disini adalah mencoba mencari atau menentukan inti dari keterampilan yang bersangkutan. Inti itulah yang kemudian dijadikan bagia pertama yag harus dilakukan. Sebagai contoh, untuk mengajar lompat jauh gaya lenting dengan metode progresif adalah dengan menentukan silkap melenting di udara sebagai intinya.
Sumber: http://pendidikanjasmani13.blogspot.com/2011/12/prinsip-dasar-latihan.html
Rabu, 07 November 2012
DEFINISI KURIKULUM (pengembangan kurikulum)
PENGEMBANGAN KURIKULUM
DEFINISI KURIKULUM
DISUSUN OLEH:
KHAMID FAUZI
10601241046
PJKR (A)
FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2012
Sumber: http://maydina.multiply.com/journal/item/551/Apa_itu_kurikulum
92.M. Skilbeck (1984):
The learning experiences of students, in so far as they are expressed or anticipated in goals and objectivies, plans and designs for learning and implementation of these plans and design in school environments. (pengalaman-pengalaman murid yang diekspresikan dan diantisipasikan dalam cita-cita dan tujuan-tujuan, rencana-rencana dan desain-desain untuk belajar dan implementasi dari rencana-rencana dan desain-desain tersebut di lingkungan sekolah.
(Pengertian kurikulum di atas mengandung arti bahwa kurikulum itu memiliki tujuan/sasaran tertentu. Setelah tujuan/sasaran itu jelas, barulah mendesain metode pembelajaran yang menunjang proses pembelajaran terebut. Akan tetapi penerapan dari model desain system pembelajaran itu hanya terbatas pada lingkungan sekolah saja.
Kelemahan dari definisi ini adalah kegiatan yang dilakukan diluar lingkungan sekolah yang diselenggarakan sekolah tidak dianggap sebagai kurikulum walaupun menunjang proses pembelajaran. Padahal bisa saja kan kegiatan yang dilakukan diluar sekolah itu merupakan salah satu jalan untuk membuat murid-murid itu lebih mendalami pelajaran disekolah , wujud penerapannya, dan makna pendidikan.).
93. J.Wiles & J.Bondi (1989):
The curriculum is a goal or a set of values, which are activated through a development for students. The degree to which those experiences are a true representation of the envisioned goal or goals is a direct function of the effectiveness of the curriculum development efforts. (Kurikulum ialah seperangkat nilai-nilai, yang digerakkan melalui suatu pengembangan proses kulminasi dalam pengalaman-pengalaman di kelas untuk murid-murid. Tingkat terhadap pengalaman tersebut merupakan suatu representasi yang benar terhadap cita-cita yang diimpikan ialah suatu fungsi langsung daripada efektivitas dari usaha-usaha pengembangan kurikulum)
(Pengertian kurikulum diatas mengandung arti bahwa kurikulum didapati dari hasil pengalaman-pengalaman di kelas yang mengalami pengembangan kulminasi (sampai puncak tertinggi/maksimal), yang kemudian diterapkan kembali dan mengalami perubahan2 yang lebih baik dari sebelumnya. Selain itu kurikulum mengandung nilai-nilai (dalam hal ini bisa ditafsirkan nilai2 yang berlaku dimasyarakat, nilai2 agama, kewarganegraan, dsb) yang sesuai dengan tujuan utama pendidikan yaitu memanusiakan manusia. Lebih lanjut, kurikuum juga harus bias merepresentasikan (mewakili) kebenaran dari cita-cita semula pada saat kurikulum itu akan dibuat, dan memiliki sisi efektivitas dalam pengembangan kurikulum dan fungsi langsung dalam masyarakat. Maksud fungsi langsung adalah langsung terlihat manfaat dari prktek-praktek berlandaskan teori yang didapat dalam pelajaran2 dari sekolah, baik yang dilakukan oleh sekolah di sekolah maupun dilakukan di luar sekolah. Efektivitas dari usaha pengembangan kurikulum maksukdnya adalah dengan sistematis dan melihat situsi kondisi pola murid-murid pada saat itu, maka disusun kurikulum yang flexible tapi tegas yang memunculkan potensi tiap individu dengan aturan-aturan yang tidak terlalu berat.)
(Dari dua pengertian diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa kurikulum ialah suatu patokan rencana-rencana dalam hal penyelenggaran pembelajaran yang memiliki tujuan dan cita-cita tertentu yang berlandaskan pada pengalaman-pengalaman pembelajaran sebelumnya, yang bersifat flexible (dapat mengalami-mengalami perbaikan) dan didesain oleh sekolah agar murid-murid itu memiliki representasi fungsi langsung di masyarakat. Dalam hal ini saya lebih setuju bahwa kegiatan pembelajaran yang dilakukan sekolah itu tidak harus dilakukan di sekolah, dan tidak terbatas pada akademis semata, pendidikan karakter, watak, dan tingkah laku juga seharusnya masuk dalam kurikulum. Seperti ada sekolah yang mengadakan program terjun langsung ke masyarakat, dengan menginap beberapa hari di pedesaan terpencil, penggemblengan kepribadian dengan studi wisata ke laut dengan kerjasama pihak marinir yang didalamnya mengandung pendidikan watak, tingkah laku, dan agamais, serta pesantren ketika ramadhan yang didesain tidak mem-BT-kan tetapi justru menyenangkan. Selain itu hendaknya ada bagian pengembangan kurikulum di setiap sekolah yang benar-benar berkonsentrasi mengembangkan kurikulum hingga terciptanya tujuan pendidikan.
disusun dalam rangka tugas mata kuliah pengantar kuriklum (arsip tugas Maydina)
1. Menurut Nana Sudjan a Dr. h , (2005), curriculum dalam bahasa Yunani kuno berasal dari kata Curir yang artinya pelari; dan Curere yang artinya tempat berpacu. Curriculum diartikan jarak yang harus ditempuh oleh pelari. Dari makna yang terkandung berdasarkan rumusan masalah tersebut kurikulum dalam pendidikan diartikan sebagai sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh atau disekesaikan anak didik untuk memperoleh ijasah.
2. Menurut Darkir, Prof. Drs. H, (2004), kurikulum ialah suatu program pendidikan yang berisikan berbagai bahan ajar dan pengalaman belajar yang diprogramkan, direncanakan dan dirancang secara sistematik atas dasar norma – norma yang berlaku yang dijadikan pedoman dalam proses pembelajaran bagi tenaga kependidikan dan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan.
3. Menurut Nasution, Prof. Dr. S. M. A., (2008), kurikulum adalah suatu rencana yang disusun untuk melancarkan proses belajar mengajar di bawah bimbingan dan tanggung jawab sekolah atau lembaga pendidikan beserta staf pengajarnya.
(Dari pengertian – pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa kurikulum adalah suatu rencana bahan ajar yang disusun, diprogramkan dan dirancang secara sistematik seperti sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh, untuk melancarkan proses dan dijadikan pedoman belajar mengajar agar tercapainya tujuan pendidikan.)
Sumber: http://www.ahmatnurdin.com/macam-macam-dan-jenis-pengertian-kurikulum-menurut-para-ahli.html
DEFINISI KURIKULUM
DISUSUN OLEH:
KHAMID FAUZI
10601241046
PJKR (A)
FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2012
Sumber: http://maydina.multiply.com/journal/item/551/Apa_itu_kurikulum
92.M. Skilbeck (1984):
The learning experiences of students, in so far as they are expressed or anticipated in goals and objectivies, plans and designs for learning and implementation of these plans and design in school environments. (pengalaman-pengalaman murid yang diekspresikan dan diantisipasikan dalam cita-cita dan tujuan-tujuan, rencana-rencana dan desain-desain untuk belajar dan implementasi dari rencana-rencana dan desain-desain tersebut di lingkungan sekolah.
(Pengertian kurikulum di atas mengandung arti bahwa kurikulum itu memiliki tujuan/sasaran tertentu. Setelah tujuan/sasaran itu jelas, barulah mendesain metode pembelajaran yang menunjang proses pembelajaran terebut. Akan tetapi penerapan dari model desain system pembelajaran itu hanya terbatas pada lingkungan sekolah saja.
Kelemahan dari definisi ini adalah kegiatan yang dilakukan diluar lingkungan sekolah yang diselenggarakan sekolah tidak dianggap sebagai kurikulum walaupun menunjang proses pembelajaran. Padahal bisa saja kan kegiatan yang dilakukan diluar sekolah itu merupakan salah satu jalan untuk membuat murid-murid itu lebih mendalami pelajaran disekolah , wujud penerapannya, dan makna pendidikan.).
93. J.Wiles & J.Bondi (1989):
The curriculum is a goal or a set of values, which are activated through a development for students. The degree to which those experiences are a true representation of the envisioned goal or goals is a direct function of the effectiveness of the curriculum development efforts. (Kurikulum ialah seperangkat nilai-nilai, yang digerakkan melalui suatu pengembangan proses kulminasi dalam pengalaman-pengalaman di kelas untuk murid-murid. Tingkat terhadap pengalaman tersebut merupakan suatu representasi yang benar terhadap cita-cita yang diimpikan ialah suatu fungsi langsung daripada efektivitas dari usaha-usaha pengembangan kurikulum)
(Pengertian kurikulum diatas mengandung arti bahwa kurikulum didapati dari hasil pengalaman-pengalaman di kelas yang mengalami pengembangan kulminasi (sampai puncak tertinggi/maksimal), yang kemudian diterapkan kembali dan mengalami perubahan2 yang lebih baik dari sebelumnya. Selain itu kurikulum mengandung nilai-nilai (dalam hal ini bisa ditafsirkan nilai2 yang berlaku dimasyarakat, nilai2 agama, kewarganegraan, dsb) yang sesuai dengan tujuan utama pendidikan yaitu memanusiakan manusia. Lebih lanjut, kurikuum juga harus bias merepresentasikan (mewakili) kebenaran dari cita-cita semula pada saat kurikulum itu akan dibuat, dan memiliki sisi efektivitas dalam pengembangan kurikulum dan fungsi langsung dalam masyarakat. Maksud fungsi langsung adalah langsung terlihat manfaat dari prktek-praktek berlandaskan teori yang didapat dalam pelajaran2 dari sekolah, baik yang dilakukan oleh sekolah di sekolah maupun dilakukan di luar sekolah. Efektivitas dari usaha pengembangan kurikulum maksukdnya adalah dengan sistematis dan melihat situsi kondisi pola murid-murid pada saat itu, maka disusun kurikulum yang flexible tapi tegas yang memunculkan potensi tiap individu dengan aturan-aturan yang tidak terlalu berat.)
(Dari dua pengertian diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa kurikulum ialah suatu patokan rencana-rencana dalam hal penyelenggaran pembelajaran yang memiliki tujuan dan cita-cita tertentu yang berlandaskan pada pengalaman-pengalaman pembelajaran sebelumnya, yang bersifat flexible (dapat mengalami-mengalami perbaikan) dan didesain oleh sekolah agar murid-murid itu memiliki representasi fungsi langsung di masyarakat. Dalam hal ini saya lebih setuju bahwa kegiatan pembelajaran yang dilakukan sekolah itu tidak harus dilakukan di sekolah, dan tidak terbatas pada akademis semata, pendidikan karakter, watak, dan tingkah laku juga seharusnya masuk dalam kurikulum. Seperti ada sekolah yang mengadakan program terjun langsung ke masyarakat, dengan menginap beberapa hari di pedesaan terpencil, penggemblengan kepribadian dengan studi wisata ke laut dengan kerjasama pihak marinir yang didalamnya mengandung pendidikan watak, tingkah laku, dan agamais, serta pesantren ketika ramadhan yang didesain tidak mem-BT-kan tetapi justru menyenangkan. Selain itu hendaknya ada bagian pengembangan kurikulum di setiap sekolah yang benar-benar berkonsentrasi mengembangkan kurikulum hingga terciptanya tujuan pendidikan.
disusun dalam rangka tugas mata kuliah pengantar kuriklum (arsip tugas Maydina)
1. Menurut Nana Sudjan a Dr. h , (2005), curriculum dalam bahasa Yunani kuno berasal dari kata Curir yang artinya pelari; dan Curere yang artinya tempat berpacu. Curriculum diartikan jarak yang harus ditempuh oleh pelari. Dari makna yang terkandung berdasarkan rumusan masalah tersebut kurikulum dalam pendidikan diartikan sebagai sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh atau disekesaikan anak didik untuk memperoleh ijasah.
2. Menurut Darkir, Prof. Drs. H, (2004), kurikulum ialah suatu program pendidikan yang berisikan berbagai bahan ajar dan pengalaman belajar yang diprogramkan, direncanakan dan dirancang secara sistematik atas dasar norma – norma yang berlaku yang dijadikan pedoman dalam proses pembelajaran bagi tenaga kependidikan dan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan.
3. Menurut Nasution, Prof. Dr. S. M. A., (2008), kurikulum adalah suatu rencana yang disusun untuk melancarkan proses belajar mengajar di bawah bimbingan dan tanggung jawab sekolah atau lembaga pendidikan beserta staf pengajarnya.
(Dari pengertian – pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa kurikulum adalah suatu rencana bahan ajar yang disusun, diprogramkan dan dirancang secara sistematik seperti sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh, untuk melancarkan proses dan dijadikan pedoman belajar mengajar agar tercapainya tujuan pendidikan.)
Sumber: http://www.ahmatnurdin.com/macam-macam-dan-jenis-pengertian-kurikulum-menurut-para-ahli.html
MODIFIKASI PERMAINAN SOFTBALL PADA PERMAINAN FIELDING ‘BOLA TAMPAR’
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( RPP )
MODIFIKASI PERMAINAN SOFTBALL PADA PERMAINAN FIELDING
‘BOLA TAMPAR’
Disusun oleh :
KHAMID FAUZI
10601241046
PJKR’A 2010
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
2012
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
Nama Permainan : BOLA TAMPAR
Alokasi Waktu : 30 menit (1 x pertemuan)
Alat belajar :
- Bola hasil modifikasian 6 buah
- Cone 4 buah
- keranjang atau tempat sampah 3 buah
- Peluit
- Serbuk kapur atau alas untuk tempat pijakan/tanda tempat hinggap
Materi Pembelajaran
Permainan Softball yang telah dimodifikasi (Bola Tampar)
• Teknik, memukul/menampar bola dengan tangan, melempar bola dengan baik, benar dan akurat serta mampu menangkap bola.
• Taktik Penekanan pentingnya penempatan posisi bola dan lari ketempat hinggap dengan aman serta mampu mencetak angka, serta mampu mengambil keputusan dengan dengan bola yang ada pada tangannya.
• Bermain softball dengan peraturan yang dimodifikasi.
Deskripsi Permainan
Permaina Bola tampar ini merupakan salah satu hasil modifikasi dari permainan ssoftball. Modifikasinya baik dari segi peraturan, cara bermain, lapangan, jumlah pemain dan juga alat yang digunakan. Permainan ini lebih menekankan pada masalah teknik dan taktik. Pada teknik yaitu bagaimana cara menampar bola dengan baik dan benar. Selain itu peserta juga harus mampu menangkap serta melempar bola dengan baik, benar dan akurat. Sedangkan pada taktik yaitu bagaimana menempatkan bola agar dirinya mampu ketempat hinggap dengan aman atau membantu teman dalam mencetak angka, serta mampu mengambil keputusan dengan bola yang ada ditangannya..
Langkah-langkah Pembelajaran
No Kegiatan Alokasi Waktu Formasi / Gambar
1. Pendahuluan:
Berbaris,
Berdoa,
Presensi atau hitung jumlah siswa
Pemanasan
Bermain permainan elang dan anak ayam. Siswa yang bertugas menjadi elang berusaha mengejar dan menangkap siswa yang menjadi anak ayam. Anak ayam harus berlari menghindari kejaran elang, dan anak ayam boleh menggunakan 2 cara untuk berlindung diri, yaitu dengan jongkok dan tidak bergerak seperti patung ( tidak boleh tertawa). Siswa yang jongkok bisa berdiri jika melakukan jabat tangan dengan temannya yang jongkok juga. Sedangkan siswa yang seperti patung, boleh bergerak jika telah disentuh oleh temannya yang berdiri.
Berbaris
Penjelasan materi Pendahuluan:
6 menit
Keterangan:
= Siswa
= Guru
Keterangan:
: Siswa yang jadi anak ayam
: Siswa yang jadi elang
2. Inti:
-Latihan pendekatan teknik, yaitu dengan latihan tampar bola, tangkap bola dan diikuti dengan lempar bola (4 orang per kelompok latihan).setelah latihan teknik selesai, guru disini memberikan arahan untuk pendekatan taktik.
-Permainan inti. Yaitu untuk terdiri dari 2 regu, regu penjaga dan pemukul (penampar bola). peraturan sebagai berikut:
Area permainan berbentuk persegi panjang
Regu pemukul: 2 siswa dari regu pemukul bertugas untuk melempar bola untuk temannya, dan temannya menampar bolanya, mereka berdiri berdampingan, kemudian lari ketempat hinggap secara bersama-sama. Tamparan bola harus melewati garis minimal, kalau tidak, maka pemain dinyatakan out atau mati.
Regu penjaga: berusaha menangkap, atau mematikan siswa yang menampar bola dengan memasukkan bola kedalam keranjang yang ada di base.
Tiap siswa hanya mempunyai 1 kali kesempatan menampar bola.
Poin diperoleh apabila pemukul atau teman pemukul bisa kembali ke home dengan aman.
Jika 3 tim penampar dimatikan, maka terjadi change atau pergantian (regu pemukul menjadi penjaga dan sebaliknya.
Siapa yang berhasil mengumpulkan point yang lebih banyak maka dialah pemenangnya. Penainan
15 menit
Keterangan:
: Siswa
: Arah gerak bola
: Arah gerak siswa setela melempar
: Bola
Keterangan:
: Tim A
: Tim B
: Bola
: Cone
: Keranjang sampah
: Alas pijakan
: Batas yang harus dilewati bola yang dilakukan oleh penampar
3. Penutup
Berbaris berbanjar sesuai kelompok
Pendinginan, berupa permainan tebak gerak (untuk permainan penutup)
Aturan main: guru memberikan sebuah tulisan kepada orang pertama, orang pertama menyampaikan keorang kedua dengan hanya menggunakan anggota badan kecuali menggunakan mulut untuk menjelaskannya, begitu seterusnya. Orang terakhir bertugas menjawab.
Berbaris
Evaluasi
Berdoa
Membubarkan barisan 4 menit
Keterangan:
:Regu A
: Regu B
: Guru
MODIFIKASI PERMAINAN SOFTBALL PADA PERMAINAN FIELDING
‘BOLA TAMPAR’
Disusun oleh :
KHAMID FAUZI
10601241046
PJKR’A 2010
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
2012
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
Nama Permainan : BOLA TAMPAR
Alokasi Waktu : 30 menit (1 x pertemuan)
Alat belajar :
- Bola hasil modifikasian 6 buah
- Cone 4 buah
- keranjang atau tempat sampah 3 buah
- Peluit
- Serbuk kapur atau alas untuk tempat pijakan/tanda tempat hinggap
Materi Pembelajaran
Permainan Softball yang telah dimodifikasi (Bola Tampar)
• Teknik, memukul/menampar bola dengan tangan, melempar bola dengan baik, benar dan akurat serta mampu menangkap bola.
• Taktik Penekanan pentingnya penempatan posisi bola dan lari ketempat hinggap dengan aman serta mampu mencetak angka, serta mampu mengambil keputusan dengan dengan bola yang ada pada tangannya.
• Bermain softball dengan peraturan yang dimodifikasi.
Deskripsi Permainan
Permaina Bola tampar ini merupakan salah satu hasil modifikasi dari permainan ssoftball. Modifikasinya baik dari segi peraturan, cara bermain, lapangan, jumlah pemain dan juga alat yang digunakan. Permainan ini lebih menekankan pada masalah teknik dan taktik. Pada teknik yaitu bagaimana cara menampar bola dengan baik dan benar. Selain itu peserta juga harus mampu menangkap serta melempar bola dengan baik, benar dan akurat. Sedangkan pada taktik yaitu bagaimana menempatkan bola agar dirinya mampu ketempat hinggap dengan aman atau membantu teman dalam mencetak angka, serta mampu mengambil keputusan dengan bola yang ada ditangannya..
Langkah-langkah Pembelajaran
No Kegiatan Alokasi Waktu Formasi / Gambar
1. Pendahuluan:
Berbaris,
Berdoa,
Presensi atau hitung jumlah siswa
Pemanasan
Bermain permainan elang dan anak ayam. Siswa yang bertugas menjadi elang berusaha mengejar dan menangkap siswa yang menjadi anak ayam. Anak ayam harus berlari menghindari kejaran elang, dan anak ayam boleh menggunakan 2 cara untuk berlindung diri, yaitu dengan jongkok dan tidak bergerak seperti patung ( tidak boleh tertawa). Siswa yang jongkok bisa berdiri jika melakukan jabat tangan dengan temannya yang jongkok juga. Sedangkan siswa yang seperti patung, boleh bergerak jika telah disentuh oleh temannya yang berdiri.
Berbaris
Penjelasan materi Pendahuluan:
6 menit
Keterangan:
= Siswa
= Guru
Keterangan:
: Siswa yang jadi anak ayam
: Siswa yang jadi elang
2. Inti:
-Latihan pendekatan teknik, yaitu dengan latihan tampar bola, tangkap bola dan diikuti dengan lempar bola (4 orang per kelompok latihan).setelah latihan teknik selesai, guru disini memberikan arahan untuk pendekatan taktik.
-Permainan inti. Yaitu untuk terdiri dari 2 regu, regu penjaga dan pemukul (penampar bola). peraturan sebagai berikut:
Area permainan berbentuk persegi panjang
Regu pemukul: 2 siswa dari regu pemukul bertugas untuk melempar bola untuk temannya, dan temannya menampar bolanya, mereka berdiri berdampingan, kemudian lari ketempat hinggap secara bersama-sama. Tamparan bola harus melewati garis minimal, kalau tidak, maka pemain dinyatakan out atau mati.
Regu penjaga: berusaha menangkap, atau mematikan siswa yang menampar bola dengan memasukkan bola kedalam keranjang yang ada di base.
Tiap siswa hanya mempunyai 1 kali kesempatan menampar bola.
Poin diperoleh apabila pemukul atau teman pemukul bisa kembali ke home dengan aman.
Jika 3 tim penampar dimatikan, maka terjadi change atau pergantian (regu pemukul menjadi penjaga dan sebaliknya.
Siapa yang berhasil mengumpulkan point yang lebih banyak maka dialah pemenangnya. Penainan
15 menit
Keterangan:
: Siswa
: Arah gerak bola
: Arah gerak siswa setela melempar
: Bola
Keterangan:
: Tim A
: Tim B
: Bola
: Cone
: Keranjang sampah
: Alas pijakan
: Batas yang harus dilewati bola yang dilakukan oleh penampar
3. Penutup
Berbaris berbanjar sesuai kelompok
Pendinginan, berupa permainan tebak gerak (untuk permainan penutup)
Aturan main: guru memberikan sebuah tulisan kepada orang pertama, orang pertama menyampaikan keorang kedua dengan hanya menggunakan anggota badan kecuali menggunakan mulut untuk menjelaskannya, begitu seterusnya. Orang terakhir bertugas menjawab.
Berbaris
Evaluasi
Berdoa
Membubarkan barisan 4 menit
Keterangan:
:Regu A
: Regu B
: Guru
MENCARI BEBERAPA REFERENSI TENTANG TEORI BELAJAR, TEORI SISTEM, DAN TEORI PEMBELAJARAN
MENCARI BEBERAPA REFERENSI TENTANG TEORI BELAJAR, TEORI SISTEM, DAN TEORI PEMBELAJARAN
DISUSUN OLEH:
KHAMID FAUZI
10601241046
PJKR A
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
2012
1. TEORI BELAJAR
Menurut Jerome Bruner , belajar melibatkan tiga proses yang berlangsung hampir bersamaan, yakni :
a) Memperoleh informasi baru. Informasi baru dapat merupakan penghalusan dari informasi seelumnya yang dimiliki seseorang atau informasi tersebut dapat bersifat sedemikian rupa sehingga berlawanan dengan informasi sebelumnya yang dimiliki seseorang.
b) Transformasi informasi. Transformasi informasi / pengetahuan menyangkut cara kita memperlakukan pengetahuan.Informasi yang diperoleh , kemudian dianalisis , diubah atau ditransformasikan ke dalam bentuk yang lebih abstrak atau konseptual agar dapat digunakan untuk hal – hal yang lebih luas.
c) Evaluasi. Evaluasi merupakan proses menguji relevasi dan ketepatan pengetahuan.Proses ini dilakukan dengan menilai apakah cara kita memperlakukan pengetahuan tersebut cocok atau sesuai dengan prosedur yang ada.
(Sumber: http://sainsmatika.blogspot.com/2012/04/teori-kognitif-dari-bruner-dan-teori.html)
Teori Belajar adalah hipotesis rumit yang menggambarkan bagaimana sebenarnya prosedur ini terjadi. Ada tiga kategori utama atau kerangka filosofis dari teori teori belajar ini, yaitu; (1)behaviorisme, (2) kognitivisme, dan (3) kontruktivisme. Secara garis besar, behaviorisme hanya berfokus pada aspek-aspek obyektif yang diamati pada proses pembelajaran. Teori kognitif melihat melampaui perilaku untuk menjelaskan bagaimana otak bekerja dalam mempelajari sesuatu. Sedangkan teori konstruktivisme mengemukakan bahwa belajar sebagai proses saat peserta didik secara aktif membangun ide-ide baru dalam belajar.
(sumber: http://www.sariyanta.com/kuliah/teori-teori-belajar/)
Teori belajar Yang ditekankan Tokoh
Behaviorisme (tingkah laku) Stimulus, respon, penguatan motivasi Pavlov, Skinner, Bandura
Cognitivisme Daya ingat, perhatian, pemahaman mendalam, organisasi gagasan, proses informasi Brunner, Piaget, Ausubel
Konstruktivisme Pengalaman, interaksi Jean Piaget, Vygotsky,
Humanisme Emosi, perasaan, komunikasi yang terbuka, nilai-nilai John Miler
(Sumber:http://blog.uin-malang.ac.id/uchielblog/2011/04/07/teori-belajar-dan-pembelajaran-konsep-belajar-dan-pembelajaran/).
1. Teori belajar Behaviorisme
Teori behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.
Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
2. Teori Belajar kognitivisme
Teori belajar kognitif mulai berkembang pada abad terakhir sebagai protes terhadap teori perilaku yang yang telah berkembang sebelumnya. Model kognitif ini memiliki perspektif bahwa para peserta didik memproses infromasi dan pelajaran melalui upayanya mengorganisir, menyimpan, dan kemudian menemukan hubungan antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah ada. Model ini menekankan pada bagaimana informasi diproses.
Peneliti yang mengembangkan teori kognitif ini adalah Ausubel, Bruner, dan Gagne. Dari ketiga peneliti ini, masing-masing memiliki penekanan yang berbeda. Ausubel menekankan pada apsek pengelolaan (organizer) yang memiliki pengaruh utama terhadap belajar.Bruner bekerja pada pengelompokkan atau penyediaan bentuk konsep sebagai suatu jawaban atas bagaimana peserta didik memperoleh informasi dari lingkungan.
3. Teori Belajar Konstruktivisme
Kontruksi berarti bersifat membangun, dalam konteks filsafat pendidikan dapat diartikan Konstruktivisme adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup yang berbudaya modern.
Konstruktivisme merupakan landasan berfikir (filosofi) pembelajaran konstektual yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong.
(Sumber: http://belajarpsikologi.com/macam-macam-teori-belajar/)
A. Guru harus menguasai teori-teori belajar:
Teori belajar akan sangat membantu guru, supaya memiliki kedewasaan dan kewibawaan dalam hal mengajar, mempelajari muridnya, meng¬gunakan prinsip-prinsip psikologi maupun dalam hal menilai cara mengajarnya sendiri. Dengan demikian, tujuan mempelajari psikologi belajar adalah: (Mahfud, 1991: 10)
1. Untuk membantu para guru, agar menjadi lebih bijaksana dalam usahanya membimbing murid dalam proses pertumbuhan belajar.
2. Agar para guru memiliki dasar-dasar yang luas dalam hal mendidik, sehingga murid bisa bertambah baik dalam cara belajamya.
3. Agar para guru dapat menciptakan suatu sistem pendidikan yang efisien dan efektif dengan jalan mempelajari, menganalisis tingkah laku murid dalam proses pendidikan untuk kemudian mengarahkan proses-proses pendidikan yang berlangsung, guna meningkatkan ke arah yang lebih baik.
4. Seorang guru dikatakan kompeten bila ia memiliki khasanah cara penyampaian yang kaya, memiliki pula kriteria yang dapat dipergunakan untuk memilih cara-cara yang tepat di dalam menyajikan pengalaman belajar mengajar, sesuai dengan materi yang akan disampaiakan. Kesemuanya itu hanya akan diperoleh jika guru menguasai teori-teori belajar.
(sumber:http://aristhaserenade.blogspot.com/2011/10/teori-belajar-dan-model-pembelajaran.html).
2. TEORI SISTEM
Menurut David Easton (1984:395) sistem adalah:
Teori sistem adalah suatu model yang menjelaskan hubungan tertentu antara sub-sub sistem dengan sistem sebagai suatu unit (yang bisa saja berupa suatu masyarakat, serikat buruh, organisasi pemerintah).
Easton juga meringkas ciri-cirinya sebagai berikut:
1. Sistem mempunyai batas yang didalamnya ada saling hubungan fungsional yang terutama dilandasi oleh beberapa bentuk komunikasi.
2. Sistem terbagi kedalam sub-sub sistem yang satu sama lainnya saling melakukan pertukaran (seperti antara desa dengan pemerintah daerah atau antara pemerintah daerah dengan pemerintah pusat).
3. Sistem bisa membuat kode, yaitu menerima informasi, mempelajari dan menerjemahkan masukan (input) kedalam beberapa jenis keluaran (output).
Carl. D. Friedrich dalam buku “man and his Government” mengemukakan definisi sistem, yaitu : Apabila beberapa bagian yang berlainan dan berbeda satu sama lain membentuk suatu kesatuan, melaksanakan hubungan fungsional yang tetap satu sama lain serta mewujudkan bagian-bagian itu saling tergantung satu sama lain. Sehingga kerusakan suatu bagian mengakibatkan kerusakan keseluruhan, maka hubungan yang demikian disebut sistem. (Sukarna, 1981:19) .
Sedangkan teori sistem menurut Michael Rush dan Philip Althoff (1988:19) menyatakan bahwa gejala sosial merupakan bagian dari politik tingkah laku yang konsisten, internal dan reguler dan dapat dilihat serta dibedakan, karena itu kita bisa menyebutnya sebagai: sistem sosial, sistem politik dan sejumlah sub-sub sistem yang saling bergantung seperti ekonomi dan politik.
(Sumber: http://taufiknurohman25.blogspot.com/2011/04/teori-sistem-david-easton.html)
Teori Sistem: yaitu, suatu kerangka yang terdiri dari beberapa elemen / sub elemen / sub system yang saling berinteraksi dan berpengaruh. Konsep system digunakan untuk menganalisis perilaku dan gejala sosial dengan berbagai system yang lebih luas maupun dengan sub system yang tercakup di dalamnya. Contohnya adalah interaksi antar keluarga disebut sebagai system, anak merupakan sus system dan masyarakat merupakan supra system, selain kaitannya secara vertikal juga dapat dilihat hubungannya secara horizontal suatu system dengan berbagai system yang sederajat. Dalam pandangan Talcott Parsons, masyarakat dan suatu organisme hidup merupakan system yang terbuka yang berinteraksi dan saling mempengaruhi dengan lingkungannya. System kehidupan ini dapat dianalisis melaui dua dimensi yaitu : interaksi antar bagian-bagian / elemen-elemen yang membentuk system dan interaksi / pertukaran antar system itu dengan lingkungannya. Talcott Parsons membangun suatu teori system umum / Grand Theory yang berisi empat unsure utama yang tercakup dalam segala system kehidupan, yaitu : Adaptation, Goal Attainment, Integration dan Latent Pattern Maintenance. Talcott Parsons mengemukakan teori sebagai berikut :
1. Sitem Sosial
2. Sistem Budaya
3. Sistem Kepribadian
System social adalah system yang terbentuk dalam saling ketergantungan antara manusia dengan manusia lain. Menurut Robert MZ. Lawang (1985), dalam buku system social Indonesia dinyatakan bahwa system social itu ditandai oleh adanya hubungan timbal-balik secara konstan (tindakan berulang-ulang dengan cara yang sama seperti sebelumnya).
Unsur-unsur system social menurut Elvin L.bertrand(1980), ada 10 unsur yang terkandung dalam system social, yaitu:
1. Keyakinan (pengetahuan) 6. Tingkatan atau pangkat (rank)
2. Perasaan (sentiment) 7. Kekuasaan/pengaruh (power)
3. Tujuan, sasanran atau cita-cita 8. Sanksi
4. Norma 9. Sarana dan fasilitas
5. Status dan peranan (status and rule) 10. Tekanan dan tegangan (stress-strain)
(Sumber:http://tutorialkuliah.blogspot.com/2009/06/teori-tindakan-dan-teori-sistem-talcott.html).
A. PENGERTIAN SISTEM SOSIAL
Sistem sosial ialah proses belajar mengenali, menganalisis dan mempertimbangkan eksistensi dan perilaku organisasi dan institusi sosial kemasyarakatan dalam berbagai ranah kehidupan manusia. Peran manusia di sini lebih dilihat sebagai makhluk sosial dan bagian dari kelompok kepentingan, bukan sebagai individu.
Sistem sosial Merupakan hubungan timbal balik yang pencapaiannya tetap”Menurut para ahli:
1.Rosech warren
Sistem social adalah suatu system social “ organisasi daripada hak dan kewajibansecara timbale balik yang diharuskan oleh kebutuhan orang-orang yangmenduduki berbagai posisi dalam masyarakat.
2.Ralph Linton
Sistem social “pola-pola yang mengatur hubungan timbale balik antar individudalam masyarakat dan antar individu dengan masyarakatnya (individu denganindividu, masyarakat dengan masyarakat)
3.Talcot Parson
Sistem social adalah karakteristik pada system sociala.2 atao lebih manusia yang saling berinteraksi b.Dalam kegiatannya dengan mempertimbangkan tindakan orang lainc.Terkadang manusia dalam system itu bertindak bersama-sa,a untuk mengejar kepentingan bersamaKesimpulan system social adalah“suatu oragnisasi social yang membedakan fungsi suatu bagian terhadap bagian yang laindan pada waktu yang bersamaan membutuhkan kompleks hubungan yang integralsebagai suatu kesatuan
(Sumber:http://www.scribd.com/doc/38214145/Rangkuman-Sistem-Sosial-Budaya-DR-Tatjong-Smsester-1).
B. SISTEM BUDAYA
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia.
System nilai budaya (system budaya) adalah rangkaian konsep abstrak yang hidup dalam alam pikiran sebagai besar warna masyarakat yang dianggap penting dan bernilai, sebagai suatu bentuk dorongan dalam memberikan arah berperilau didalam masyarakat.
Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia.
Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian, nilai, norma, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.
Menurut Edward B. Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.
(Sumber: http://aliciakomputer.blogspot.com/2009/03/sistem-sosial-budaya-indonesia.html)
C. TEORI KEPRIBADIAN
Teori kepribadian adalah gambaran total tentang tingkah laku individu yang terorganisasi”
Teori kepribadian merupakan sistem yang relatif ajeg/ stabil mengenai karakter internal individu yang memiliki kontribusi terhadap konsistensi dalam pikiran,perasaan dan tingkah laku).
Sedangkan Allport ( Yusuf dan Juntika, 2007) mendefinisikan kepribadian sebagai “ dynamic organization within the individual of those psychophysical systems that determine his unique adjustment to his environment” (kepribadian merupakan organisasi yang dinamis dalam diri individu tentang sistem psikofisik yang menentukan penyesuaiannya yang unik terhadap lingkungannya). Pengertian menurut Allport bisa dijelaskan bahwa kepribadian berarti : (a) dynamic artinya kepribadian dari waktu ke waktu, situasi ke situasi merujuk pada perubahan kualitas perilaku (b) Organization artinya kepribadian merupakan keterkaitan antara struktur kepribadian yang independen yang saling berhubungan dan saling berinterrelasi (c) kepribadian terdiri atas kebiasaan, sikap, emosi, sentimen, motif, keyakinan, yang kesemuanaya merupakan aspek psikis, juga mempunyai dasar fisik dalam individu seperti syaraf, kelenjar, atau tubuh individu secara keseluruhan. (d) determine menunjukkan peran motivasional yang mendasari kegiatan yang khas, dan mempengaruhi bentuk-bentuknya. (e) unik, merujuk pada keunikan atau keragaman tingkah laku individu sebagai ekspresi dari pola sistem psikofisiknya.
(Sumber: http://bkpemula.wordpress.com/2012/02/01/teori-kepribadian/).
3. TEORI PEMBELAJARAN
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses perolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.
Di sisi lain pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, tetapi sebenarnya mempunyai konotasi yang berbeda. Dalam konteks pendidikan, guru mengajar agar peserta didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran hingga mencapai sesuatu objektif yang ditentukan (aspek kognitif), juga dapat memengaruhi perubahan sikap (aspek afektif), serta keterampilan (aspek psikomotor) seorang peserta didik, namun proses pengajaran ini memberi kesan hanya sebagai pekerjaan satu pihak, yaitu pekerjaan pengajar saja. Sedangkan pembelajaran menyiratkan adanya interaksi antara pengajar dengan peserta didik.
Pembelajaran yang berkualitas sangat tergantung dari motivasi pelajar dan kreatifitas pengajar. Pembelajar yang memiliki motivasi tinggi ditunjang dengan pengajar yang mampu memfasilitasi motivasi tersebut akan membawa pada keberhasilan pencapaian target belajar. Target belajar dapat diukur melalui perubahan sikap dan kemampuan siswa melalui proses belajar. Desain pembelajaran yang baik, ditunjang fasilitas yang memandai, ditambah dengan kreatifitas guru akan membuat peserta didik lebih mudah mencapai target belajar.
(Sumber: http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pembelajaran&action=edit§ion=1).
Pembelajaran yang diidentikkan dengan kata “mengajar” berasal dari kata dasar “ajar” yang berarti petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui (diturut) ditambah dengan awalan “pe” dan akhiran “an menjadi “pembelajaran”, yang berarti proses, perbuatan, cara mengajar atau mengajarkan sehingga anak didik mau belajar. Dengan kata lain, kegiatan pembelajaran adalah kegiatan yang di dalamnya terdapat proses mengajar, membimbing, melatih, memberi contoh, dan atau mengatur serta memfasilitasi berbagai hal kepada peserta didik agar bisa belajar sehingga tercapai tujuan pendidikan. Pembelajaran juga diartikan sebagai usaha sistematis yang memungkinkan terciptanya pendidikan.
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik. Proses Pembelajaran juga dapat diartikan sebagai suatu rangkaian interaksi antara siswa dan guru dalam rangka mencapai tujuannya.
Dalam pembelajaran, guru mempunyai tugas-tugas pokok antara lain bahwa ia harus mampu dan cakap merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi dan membimbing dalam kegiatan pembelajaran. Dengan kata lain, agar para guru mampu menunaikan tugasnya dengan sebaik-baiknya, ia terlebih dahulu hendaknya memahami dengan seksama hal-hal yang berkaitan dengan proses pembelajaran.
Pendekatan pembelajaran dapat berarti anutan pembelajaran yang berusaha meningkatkan kemampuan-kemampuan kognitif, afekif, dan psikomotorik siswa dalam pengolahan pesan sehingga tercapai sasaran belajar.
Dalam belajar tentang pendekatan pembelajaran tersebut, orang dapat melihat:
(i) pengorganisasian siswa,
(ii) posisi guru-siswa dalam pengolahan pesan, dan
(iii) pemerolehan kemampuan dalam pembelajaran.
Pendekatan pembelajaran dengan pengorganisasian siswa dapat dilakukan dengan:
(i) pambelajaran secara individual,
(ii) pembelajaran secara kelompok, dan
(iii) pembelajaran secara klasikal.
(Sumber:http://blog.uin-malang.ac.id/uchielblog/2011/04/07/teori-belajar-dan-pembelajaran-konsep-belajar-dan-pembelajaran/).
DISUSUN OLEH:
KHAMID FAUZI
10601241046
PJKR A
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
2012
1. TEORI BELAJAR
Menurut Jerome Bruner , belajar melibatkan tiga proses yang berlangsung hampir bersamaan, yakni :
a) Memperoleh informasi baru. Informasi baru dapat merupakan penghalusan dari informasi seelumnya yang dimiliki seseorang atau informasi tersebut dapat bersifat sedemikian rupa sehingga berlawanan dengan informasi sebelumnya yang dimiliki seseorang.
b) Transformasi informasi. Transformasi informasi / pengetahuan menyangkut cara kita memperlakukan pengetahuan.Informasi yang diperoleh , kemudian dianalisis , diubah atau ditransformasikan ke dalam bentuk yang lebih abstrak atau konseptual agar dapat digunakan untuk hal – hal yang lebih luas.
c) Evaluasi. Evaluasi merupakan proses menguji relevasi dan ketepatan pengetahuan.Proses ini dilakukan dengan menilai apakah cara kita memperlakukan pengetahuan tersebut cocok atau sesuai dengan prosedur yang ada.
(Sumber: http://sainsmatika.blogspot.com/2012/04/teori-kognitif-dari-bruner-dan-teori.html)
Teori Belajar adalah hipotesis rumit yang menggambarkan bagaimana sebenarnya prosedur ini terjadi. Ada tiga kategori utama atau kerangka filosofis dari teori teori belajar ini, yaitu; (1)behaviorisme, (2) kognitivisme, dan (3) kontruktivisme. Secara garis besar, behaviorisme hanya berfokus pada aspek-aspek obyektif yang diamati pada proses pembelajaran. Teori kognitif melihat melampaui perilaku untuk menjelaskan bagaimana otak bekerja dalam mempelajari sesuatu. Sedangkan teori konstruktivisme mengemukakan bahwa belajar sebagai proses saat peserta didik secara aktif membangun ide-ide baru dalam belajar.
(sumber: http://www.sariyanta.com/kuliah/teori-teori-belajar/)
Teori belajar Yang ditekankan Tokoh
Behaviorisme (tingkah laku) Stimulus, respon, penguatan motivasi Pavlov, Skinner, Bandura
Cognitivisme Daya ingat, perhatian, pemahaman mendalam, organisasi gagasan, proses informasi Brunner, Piaget, Ausubel
Konstruktivisme Pengalaman, interaksi Jean Piaget, Vygotsky,
Humanisme Emosi, perasaan, komunikasi yang terbuka, nilai-nilai John Miler
(Sumber:http://blog.uin-malang.ac.id/uchielblog/2011/04/07/teori-belajar-dan-pembelajaran-konsep-belajar-dan-pembelajaran/).
1. Teori belajar Behaviorisme
Teori behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.
Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
2. Teori Belajar kognitivisme
Teori belajar kognitif mulai berkembang pada abad terakhir sebagai protes terhadap teori perilaku yang yang telah berkembang sebelumnya. Model kognitif ini memiliki perspektif bahwa para peserta didik memproses infromasi dan pelajaran melalui upayanya mengorganisir, menyimpan, dan kemudian menemukan hubungan antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah ada. Model ini menekankan pada bagaimana informasi diproses.
Peneliti yang mengembangkan teori kognitif ini adalah Ausubel, Bruner, dan Gagne. Dari ketiga peneliti ini, masing-masing memiliki penekanan yang berbeda. Ausubel menekankan pada apsek pengelolaan (organizer) yang memiliki pengaruh utama terhadap belajar.Bruner bekerja pada pengelompokkan atau penyediaan bentuk konsep sebagai suatu jawaban atas bagaimana peserta didik memperoleh informasi dari lingkungan.
3. Teori Belajar Konstruktivisme
Kontruksi berarti bersifat membangun, dalam konteks filsafat pendidikan dapat diartikan Konstruktivisme adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup yang berbudaya modern.
Konstruktivisme merupakan landasan berfikir (filosofi) pembelajaran konstektual yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong.
(Sumber: http://belajarpsikologi.com/macam-macam-teori-belajar/)
A. Guru harus menguasai teori-teori belajar:
Teori belajar akan sangat membantu guru, supaya memiliki kedewasaan dan kewibawaan dalam hal mengajar, mempelajari muridnya, meng¬gunakan prinsip-prinsip psikologi maupun dalam hal menilai cara mengajarnya sendiri. Dengan demikian, tujuan mempelajari psikologi belajar adalah: (Mahfud, 1991: 10)
1. Untuk membantu para guru, agar menjadi lebih bijaksana dalam usahanya membimbing murid dalam proses pertumbuhan belajar.
2. Agar para guru memiliki dasar-dasar yang luas dalam hal mendidik, sehingga murid bisa bertambah baik dalam cara belajamya.
3. Agar para guru dapat menciptakan suatu sistem pendidikan yang efisien dan efektif dengan jalan mempelajari, menganalisis tingkah laku murid dalam proses pendidikan untuk kemudian mengarahkan proses-proses pendidikan yang berlangsung, guna meningkatkan ke arah yang lebih baik.
4. Seorang guru dikatakan kompeten bila ia memiliki khasanah cara penyampaian yang kaya, memiliki pula kriteria yang dapat dipergunakan untuk memilih cara-cara yang tepat di dalam menyajikan pengalaman belajar mengajar, sesuai dengan materi yang akan disampaiakan. Kesemuanya itu hanya akan diperoleh jika guru menguasai teori-teori belajar.
(sumber:http://aristhaserenade.blogspot.com/2011/10/teori-belajar-dan-model-pembelajaran.html).
2. TEORI SISTEM
Menurut David Easton (1984:395) sistem adalah:
Teori sistem adalah suatu model yang menjelaskan hubungan tertentu antara sub-sub sistem dengan sistem sebagai suatu unit (yang bisa saja berupa suatu masyarakat, serikat buruh, organisasi pemerintah).
Easton juga meringkas ciri-cirinya sebagai berikut:
1. Sistem mempunyai batas yang didalamnya ada saling hubungan fungsional yang terutama dilandasi oleh beberapa bentuk komunikasi.
2. Sistem terbagi kedalam sub-sub sistem yang satu sama lainnya saling melakukan pertukaran (seperti antara desa dengan pemerintah daerah atau antara pemerintah daerah dengan pemerintah pusat).
3. Sistem bisa membuat kode, yaitu menerima informasi, mempelajari dan menerjemahkan masukan (input) kedalam beberapa jenis keluaran (output).
Carl. D. Friedrich dalam buku “man and his Government” mengemukakan definisi sistem, yaitu : Apabila beberapa bagian yang berlainan dan berbeda satu sama lain membentuk suatu kesatuan, melaksanakan hubungan fungsional yang tetap satu sama lain serta mewujudkan bagian-bagian itu saling tergantung satu sama lain. Sehingga kerusakan suatu bagian mengakibatkan kerusakan keseluruhan, maka hubungan yang demikian disebut sistem. (Sukarna, 1981:19) .
Sedangkan teori sistem menurut Michael Rush dan Philip Althoff (1988:19) menyatakan bahwa gejala sosial merupakan bagian dari politik tingkah laku yang konsisten, internal dan reguler dan dapat dilihat serta dibedakan, karena itu kita bisa menyebutnya sebagai: sistem sosial, sistem politik dan sejumlah sub-sub sistem yang saling bergantung seperti ekonomi dan politik.
(Sumber: http://taufiknurohman25.blogspot.com/2011/04/teori-sistem-david-easton.html)
Teori Sistem: yaitu, suatu kerangka yang terdiri dari beberapa elemen / sub elemen / sub system yang saling berinteraksi dan berpengaruh. Konsep system digunakan untuk menganalisis perilaku dan gejala sosial dengan berbagai system yang lebih luas maupun dengan sub system yang tercakup di dalamnya. Contohnya adalah interaksi antar keluarga disebut sebagai system, anak merupakan sus system dan masyarakat merupakan supra system, selain kaitannya secara vertikal juga dapat dilihat hubungannya secara horizontal suatu system dengan berbagai system yang sederajat. Dalam pandangan Talcott Parsons, masyarakat dan suatu organisme hidup merupakan system yang terbuka yang berinteraksi dan saling mempengaruhi dengan lingkungannya. System kehidupan ini dapat dianalisis melaui dua dimensi yaitu : interaksi antar bagian-bagian / elemen-elemen yang membentuk system dan interaksi / pertukaran antar system itu dengan lingkungannya. Talcott Parsons membangun suatu teori system umum / Grand Theory yang berisi empat unsure utama yang tercakup dalam segala system kehidupan, yaitu : Adaptation, Goal Attainment, Integration dan Latent Pattern Maintenance. Talcott Parsons mengemukakan teori sebagai berikut :
1. Sitem Sosial
2. Sistem Budaya
3. Sistem Kepribadian
System social adalah system yang terbentuk dalam saling ketergantungan antara manusia dengan manusia lain. Menurut Robert MZ. Lawang (1985), dalam buku system social Indonesia dinyatakan bahwa system social itu ditandai oleh adanya hubungan timbal-balik secara konstan (tindakan berulang-ulang dengan cara yang sama seperti sebelumnya).
Unsur-unsur system social menurut Elvin L.bertrand(1980), ada 10 unsur yang terkandung dalam system social, yaitu:
1. Keyakinan (pengetahuan) 6. Tingkatan atau pangkat (rank)
2. Perasaan (sentiment) 7. Kekuasaan/pengaruh (power)
3. Tujuan, sasanran atau cita-cita 8. Sanksi
4. Norma 9. Sarana dan fasilitas
5. Status dan peranan (status and rule) 10. Tekanan dan tegangan (stress-strain)
(Sumber:http://tutorialkuliah.blogspot.com/2009/06/teori-tindakan-dan-teori-sistem-talcott.html).
A. PENGERTIAN SISTEM SOSIAL
Sistem sosial ialah proses belajar mengenali, menganalisis dan mempertimbangkan eksistensi dan perilaku organisasi dan institusi sosial kemasyarakatan dalam berbagai ranah kehidupan manusia. Peran manusia di sini lebih dilihat sebagai makhluk sosial dan bagian dari kelompok kepentingan, bukan sebagai individu.
Sistem sosial Merupakan hubungan timbal balik yang pencapaiannya tetap”Menurut para ahli:
1.Rosech warren
Sistem social adalah suatu system social “ organisasi daripada hak dan kewajibansecara timbale balik yang diharuskan oleh kebutuhan orang-orang yangmenduduki berbagai posisi dalam masyarakat.
2.Ralph Linton
Sistem social “pola-pola yang mengatur hubungan timbale balik antar individudalam masyarakat dan antar individu dengan masyarakatnya (individu denganindividu, masyarakat dengan masyarakat)
3.Talcot Parson
Sistem social adalah karakteristik pada system sociala.2 atao lebih manusia yang saling berinteraksi b.Dalam kegiatannya dengan mempertimbangkan tindakan orang lainc.Terkadang manusia dalam system itu bertindak bersama-sa,a untuk mengejar kepentingan bersamaKesimpulan system social adalah“suatu oragnisasi social yang membedakan fungsi suatu bagian terhadap bagian yang laindan pada waktu yang bersamaan membutuhkan kompleks hubungan yang integralsebagai suatu kesatuan
(Sumber:http://www.scribd.com/doc/38214145/Rangkuman-Sistem-Sosial-Budaya-DR-Tatjong-Smsester-1).
B. SISTEM BUDAYA
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia.
System nilai budaya (system budaya) adalah rangkaian konsep abstrak yang hidup dalam alam pikiran sebagai besar warna masyarakat yang dianggap penting dan bernilai, sebagai suatu bentuk dorongan dalam memberikan arah berperilau didalam masyarakat.
Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia.
Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian, nilai, norma, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.
Menurut Edward B. Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.
(Sumber: http://aliciakomputer.blogspot.com/2009/03/sistem-sosial-budaya-indonesia.html)
C. TEORI KEPRIBADIAN
Teori kepribadian adalah gambaran total tentang tingkah laku individu yang terorganisasi”
Teori kepribadian merupakan sistem yang relatif ajeg/ stabil mengenai karakter internal individu yang memiliki kontribusi terhadap konsistensi dalam pikiran,perasaan dan tingkah laku).
Sedangkan Allport ( Yusuf dan Juntika, 2007) mendefinisikan kepribadian sebagai “ dynamic organization within the individual of those psychophysical systems that determine his unique adjustment to his environment” (kepribadian merupakan organisasi yang dinamis dalam diri individu tentang sistem psikofisik yang menentukan penyesuaiannya yang unik terhadap lingkungannya). Pengertian menurut Allport bisa dijelaskan bahwa kepribadian berarti : (a) dynamic artinya kepribadian dari waktu ke waktu, situasi ke situasi merujuk pada perubahan kualitas perilaku (b) Organization artinya kepribadian merupakan keterkaitan antara struktur kepribadian yang independen yang saling berhubungan dan saling berinterrelasi (c) kepribadian terdiri atas kebiasaan, sikap, emosi, sentimen, motif, keyakinan, yang kesemuanaya merupakan aspek psikis, juga mempunyai dasar fisik dalam individu seperti syaraf, kelenjar, atau tubuh individu secara keseluruhan. (d) determine menunjukkan peran motivasional yang mendasari kegiatan yang khas, dan mempengaruhi bentuk-bentuknya. (e) unik, merujuk pada keunikan atau keragaman tingkah laku individu sebagai ekspresi dari pola sistem psikofisiknya.
(Sumber: http://bkpemula.wordpress.com/2012/02/01/teori-kepribadian/).
3. TEORI PEMBELAJARAN
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses perolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.
Di sisi lain pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, tetapi sebenarnya mempunyai konotasi yang berbeda. Dalam konteks pendidikan, guru mengajar agar peserta didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran hingga mencapai sesuatu objektif yang ditentukan (aspek kognitif), juga dapat memengaruhi perubahan sikap (aspek afektif), serta keterampilan (aspek psikomotor) seorang peserta didik, namun proses pengajaran ini memberi kesan hanya sebagai pekerjaan satu pihak, yaitu pekerjaan pengajar saja. Sedangkan pembelajaran menyiratkan adanya interaksi antara pengajar dengan peserta didik.
Pembelajaran yang berkualitas sangat tergantung dari motivasi pelajar dan kreatifitas pengajar. Pembelajar yang memiliki motivasi tinggi ditunjang dengan pengajar yang mampu memfasilitasi motivasi tersebut akan membawa pada keberhasilan pencapaian target belajar. Target belajar dapat diukur melalui perubahan sikap dan kemampuan siswa melalui proses belajar. Desain pembelajaran yang baik, ditunjang fasilitas yang memandai, ditambah dengan kreatifitas guru akan membuat peserta didik lebih mudah mencapai target belajar.
(Sumber: http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pembelajaran&action=edit§ion=1).
Pembelajaran yang diidentikkan dengan kata “mengajar” berasal dari kata dasar “ajar” yang berarti petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui (diturut) ditambah dengan awalan “pe” dan akhiran “an menjadi “pembelajaran”, yang berarti proses, perbuatan, cara mengajar atau mengajarkan sehingga anak didik mau belajar. Dengan kata lain, kegiatan pembelajaran adalah kegiatan yang di dalamnya terdapat proses mengajar, membimbing, melatih, memberi contoh, dan atau mengatur serta memfasilitasi berbagai hal kepada peserta didik agar bisa belajar sehingga tercapai tujuan pendidikan. Pembelajaran juga diartikan sebagai usaha sistematis yang memungkinkan terciptanya pendidikan.
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik. Proses Pembelajaran juga dapat diartikan sebagai suatu rangkaian interaksi antara siswa dan guru dalam rangka mencapai tujuannya.
Dalam pembelajaran, guru mempunyai tugas-tugas pokok antara lain bahwa ia harus mampu dan cakap merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi dan membimbing dalam kegiatan pembelajaran. Dengan kata lain, agar para guru mampu menunaikan tugasnya dengan sebaik-baiknya, ia terlebih dahulu hendaknya memahami dengan seksama hal-hal yang berkaitan dengan proses pembelajaran.
Pendekatan pembelajaran dapat berarti anutan pembelajaran yang berusaha meningkatkan kemampuan-kemampuan kognitif, afekif, dan psikomotorik siswa dalam pengolahan pesan sehingga tercapai sasaran belajar.
Dalam belajar tentang pendekatan pembelajaran tersebut, orang dapat melihat:
(i) pengorganisasian siswa,
(ii) posisi guru-siswa dalam pengolahan pesan, dan
(iii) pemerolehan kemampuan dalam pembelajaran.
Pendekatan pembelajaran dengan pengorganisasian siswa dapat dilakukan dengan:
(i) pambelajaran secara individual,
(ii) pembelajaran secara kelompok, dan
(iii) pembelajaran secara klasikal.
(Sumber:http://blog.uin-malang.ac.id/uchielblog/2011/04/07/teori-belajar-dan-pembelajaran-konsep-belajar-dan-pembelajaran/).
psikologi olahraga (rebecca)
NAMA :
KHAMID FAUZI
NIM :
10601241046
PRODI :
PJKR
KELAS :
PJKR (A)
A. Pertanyaan
1. Cabang olahraga dan no. apa yang dipelajari atau
latihan yang dipelajari si Rebecca tersebut?
2. Dalam rangka menuju persiapan even olahraga apa
si Rebecca latihan olahraga tersebut?
3. Berapa lama setiap minggu dia latihan dan sudah
berapa tahun dia menggeluti olahraga ini?
4.
Aspek psikologis apa yang dilatihkan oleh pelatih kepada Rebecca dalam rangka
meningkatkan prestasi cabang olahraga yang digeluti?
5.
Simpulkan apa artinya dari latihan tersebut?
B.
Jawaban
1. Cabang olahraga yang dipelajari atau yang Rebecca
berlatih yaitu cabang olahraga senam. Tepatnya senam artistik, pada no. palang bertingkat, yaitu
gerakan Gingga Salto (yaitu
terbang lepas dari bar atas kemudian melakukan jungkir balik dengan separuh
putaran sebelum menangkap bar kembali).
2. Rebecca melakukan latihan tersebut dalam rangka
persiapan menuju olimpiade atau keinginan Rebecca untuk memenangkan medali
olimpiade.
3. Rebecca latihan selama 5 ½ jam dalam sehari, dan
dia berlatih 6 hari dalam seminggu dan telah berlatih selama 10 tahun, Rebecca
berlatih sejak dia berusia 7 tahun.
4. Pelatih
Rebecca yaitu Collin awalnya menperkenalkan dan melatih Rebecca dengan
mengangkat tubuh Rebecca kemudian secara fisik membentuk gerakan "Ginga
Salto" sehingga otak Rebecca mulai mengenal gerakan tersebut. Setelah itu,
pelatih menggunakan pendekatan yang lebih radikal, yaitu menggunakan pendekatan
visualisasi. Dimana Rebecca tidak lagi melakukan latihan fisik. Pelatih Rebecca
memerintahkan kepada rebecca untuk membayangkan secara mental dengan rinciannya
dari setiap gerakan "Ginga Salto" secara berulang-ulang, seolah-olah
dia telah berhasil menguasai gerakan tersebut.
5. Banyak ilmu, manfaat dan hikmah
yang dapat saya ambil dari sebuah tayangan video Rebecca tersebut. Bahwa suatu
keberhasilan dapat diraih dengan kerja keras, pantang menyerah dan latihan yang
matang. Pada latihan tersebut yang menggunakan metode pendekatan visualisasi
atau membayangkan. Jadi sebelum berlatih fisik, perlu adanya latihan
visualisasi atau membayangkan. Oleh sebab itu, ketika Rebecca berlatih kembali
secara fisik, dia bagaikan lebih mudah dalam meraih keberhasilan karena di
dalam otaknya telah terbentuk bayangan atau gambaran yang ada tentang gerakan
tersebut dan cara untuk berhasil dalam melakukannya.jadi, visualisasi atau
membayangkan atau imajinasi dapat membantu diri seseorang untuk meraih
keberhasilan secara lebih cepat.
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) PERMAINAN ESTAFET KATA SEBAGAI PENGENALAN AIR PADA MATA, TELINGA DAN HIDUNG
RENCANA
PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
PERMAINAN
ESTAFET KATA SEBAGAI PENGENALAN AIR PADA MATA, TELINGA DAN HIDUNG
A. PEMBUKAAN
1. Siswa di bagi menjadi 2 kelompok dan dibariskan
menjadi 2 baris
2. Siswa disiapkan dan berhitung
3. Dimulai dengan berdoa terlebih dahulu
4. Memberikan penjelasan tentang permainan yang akan
dipraktikkan
5. Pemanasan
a.
Pemanasan dilakukan dengan peregangan otot dan sendi.
b.
Pemanasan dilakukan dari tubuh bagian atas kemudian ke bawah, atau sebaliknya.
b.
kemudian pemanasan fokus pada latihan pernapasan
7.
Penentuan tempat dilakukan dengan suit antara kedua tim
B. Cara bermain
1. Siswa dibagi menjadi dua regu, tiap regu terdiri
dari 3 sampai 6 orang
2.
Setiap anggota regu berdiri 1 baris dan ada jarak antara anggota regu
3.
Orang kedua dan seterusnya membelakangi orang pertama
4.
Orang pertama diberi koin oleh panitia sebagai ganti tongkat estafet dan orang
pertama mendapat tugas untuk menyampaikan perintah dari panitia kepada orang
kedua bisa berbentuk penunjukkan angka atau anggota badan dan sebagainya
5.
Cara orang pertama mendekati orang kedua bisa dengan berenang atau berlari atau
berjalan
6.
Setelah orang pertama sampai kepada orang kedua, orang pertama menepuk pundak
orang kedua, dan orang kedua langsung berbalik badan, dan keduanya langsung
menyelam
7.
Setelah keduanya menyelam, orang pertama memberikan koin kepada orang kedua
serta menyampaikan tugas yang diberikan panitia untuk di estafetkan
8.
Setelah proses tersebut selesai, maka orang kedua melakukan hal yang sama
kepada orang ketiga, begitu seterusnya
9.
Regu yang lebih cepat menyelesaikan serta orang terakhir bisa menjawab dengan
tepat pesan yang disampaikan maka regu itu pemenangnya.
Gambar lapangan
Permainan:
: tim 2
C.
Pendinginan
1.
Pendinginan dilakukan diawali dari kaki menuju kepala atau sebaliknya (berupa
peregangan ataupun pemijitan anatar anggota kelompok.
2. Pendinginan dilakukan selama 2 menit
D.
Memberikan evaluasi kepada siswa tentang praktik yang telah dilakukan
1. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk
bertanya tentang permainan tersebut
2.
Memberikan pertanyaan pancingan untuk memancing siswa agar aktif dalam
pembelajaran bisa bertanya bagaimana perasaannya, kira-kira apa manfaat dan
tujuannya, serta yang lainnya.
3.
Memberikan umpan balik atau penjelasan,
manfaat dan tujuan tentang materi atau permainan yang telah dilakukan
E.
Menutup Pembelajaran
1. Memberikan kesimpulan kepada siswa
Kesimpulan: Dalam permainan ini untuk
pengenalan mata, telinga, hidung dan lainnya pada air kolam renang.
2. Menjelaskan nilai-nilai yang terkandung
dalam permainan tersebut.
3. Menutup dengan berdoa dan di bubarkan
dengan tertib.
F.
Nilai yang dapat di kembangkan dengan permainan ini adalah:
1. Kerjasama dalam satu tim untuk mencapai
tujuan
2.
berlatih memanfaatkan waktu.
3. Menggunakan kesempatan sebaik mungkin
4. Saling percaya kepada teman satu tim
5.
Mengharagai orang lain atau lawan (fair play)
6.
Melatih kejujuran
7.
Konsentrasi atau fokus
8.
Mengajarkan tanggungjawab
9.
Menanamkan sikap amanah
Langganan:
Postingan (Atom)